Thursday, August 8, 2019

Review Hotel

Beberapa waktu yang lalu, pas ulang tahun suamiku, kita pergi ke Jember dan menginap di salah satu hotel disana. Kita menginap di hote Cendrawasih. Hotel Cendrawasih berada di Jl. Cendrawasih No. 22 Jember.
Hotel ini sangat strategis, karena sangat dekat dengan beberapa pusat kota dan tidak jauh dari daerah kampus Universitas Jember. Hanya butuh beberapa menit saja kita sudah sampai kesana.
Hotel Cendrawasih ini tempatnya sangat luas. Ada beberapa puluh kamar dengan berbagai tipe. Mulai harga terendah sampai termahal. Hotel ini harganya sangat terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah. Antara kamar satu dengan yang lainnya, dipisahkan oleh tembok di terasnya.

Didepan setiap kamar tersedia tempat yang agak luas sehingga bagi pengunjung yang membawa kendaraan seperti motor dan mobil, bisa langsung ditaruh pas didepan kamarnya masing-masing.

Pas didepan beberapa kamar tersebut ada taman yang agak luas dan dikelilingi oleh jalan untuk menuju ke beberapa kamar yang ada didalam. Hotel ini memiliki ukuran kamar yang variatif, sesuai dengan harganya. Kamar yang aku tempati berada di urutan nomer 2 dari depan. Didalam kamar tersebut terdapat tempat tidur ukuran besar, meja, televisi, AC dan kamar mandi.
Fasilitas dari hotel Cendrawasih ini yaitu wifi, kantin dll. Kantinnya berada di belakang sebelah timur. Agak jauh dari kamarku, karena kamarku berada didepan. 

Wednesday, July 31, 2019

Resensi Film '5 cm'


Sekitar 6 tahun yang lalu, waktu aku masih di jember, aku suka sekali nonton film. Film bergenre apapun, asalkan cocok pasti aku nonton. Waktu itu ada fim baru di Indonesia, yaitu 5cm. Aku putar berulang-ulang filmnya karena memang aku nontonnya cuma di lap top dan aku suka sekali sama film ini.
Film ini menceritakan tentang 5 orang sahabat yang sudah sahabatan belasan tahun dan merayakan pertemuan mereka dengan melakukan perjalanan menuju puncak Mahameru. Hal ini berawal dari usulan Genta pada saat lagi kumpul dirumah Arial. Genta ingin keluar dari zona nyamannya mereka, sehingga dia mengajak untuk tidak ketemuan dulu selama 3 bulan. Awalnya Riani tidak setuju, karena terlalu lama. Sedangkan Ian setuju, karena dia ingin menyelesaikan skripsinya dulu. Sedangkan yang lain setuju semua. Genta sebagai pembuat usulan menjanjikan bahwa nanti kalau tiba waktunya ketemu, dia ingin mengajak kesuatu tempat yang pasti tidak akan pernah mereka lupakan. Akhirnya malam itu menjadi malam terakhir pertemuan mereka.
Selama tidak ketemuan, masing-masing dari mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada rasa rindu dan saling membutuhkan sehingga membuat mereka ingin menghubungi yang lain, namun mereka berusaha menahannya sampai waktunya tiba.
Setelah 3 bulan tidak ketemu, pada hari-hari menjelang pertemuan mereka, Genta menghubungi semua sahabatnya (Arial, Riani, Jafran dan Ian). Genta mengajak ketemuan di stasiun dan menyuruh mereka membawa barang-barang dan perlatan yang diperlukan untuk dibawa. Arial mengajak adiknya juga yang bernama Dinda. Setelah waktunya tiba, mereka semua ketemu di stasiun sambil berpelukan melepas rindu 3 bulan tidak ketemu.
Mereka naik kereta api menuju malang, karena mereka mau ke Mahameru. Segala cerita tentang 5 orang sahabat dan 2 cinta hadir disana. 5 orang sahabat yaitu Genta, Riani, Arial, Jafran dan Ian. Sedangkan 2 cinta yaitu antara Riani, Jafran, Genta dan Dinda (adiknya Arial). Setelah dari puncak Mahameru, mereka bermalam di Ranu Kumbolo. Disana, Genta menyatakan perasaannya kepada Riani namun Riani menolaknya karena yang ada dihati Riani bukan Genta tapi Jafran. Dari situ terungkaplah bahwa riani sebenarnya suka kepada Jafran dan Genta akhirnya jadi dengan Dinda.
Setelah beberapa tahun kemudian, akhirnya Riani menikah dengan Jafran dan memiliki anak laki-laki yang diberi nama Jafran juga, Arial menikah dengan kekasihnya yang bernama Indy, Ian menikah dengan Happy Salma dan Genta sama Dinda.
Seperti itulah cinta, sulit ditebak dan kalau sudah jodoh tidak akan kemana. Asalkan yakin dan jujur dengan hati kita insya Allah segala keinginan akan tercapai.

Saturday, July 20, 2019

Belajar Hidup Sehat

Tadi pagi hari pertama aku ikut terapi choyang..
"ndak cuma nganter aja wes"
Awalnya daftar, trus nunggu antrian di ruang tunggu.. Aku tadi ikut sesi pertama, periode ke 2. Sedangkan keluargaku yang lain sesi kedua. Tadi, aku hanya nunggu 2 sesi, setelah itu giliran aku masuk. Awalnya excited banget, setelah mulai nyobain rasanya... Ehm... Sakit tapi enak..
Jadi posisi kita itu tiduran di kasur yang didalamnya sudah ada alat semacam batu gitu, yang berjalan sendiri mulai dari belakang kepala bagian bawah sampai kebawahnya bokong. Pas dari atas sih enak, seperti dipijet cuma agak keras mijetnya, jika dibandingin dengan pijet ke tukang pijet. Pas alatnya nyampai ke punggung bagian bawah sampai ke bawahnya bokong, sakitnya minta ampun. Pas aku bilang sama mas ryan kalau bokongku sakit, dia bilang bahwa kalau sakit berarti bagian tubuhku ada yang sakit. Meskipun aku sendiri tidak merasakan keluhan sama sekali. Tadi sih aku ditemenin sama instrukturnya, namanya mas ryan. Mungkin karena masih baru, jadi aku ditanyain macam-macam. Mulai dari tahu dari siapa terapi ini, keluhannya apa, dan rumahnya dimana. Sambil nahan sakit aku ngobrol dengan mas itu. Sangking enaknya dipijet dan ngobrol, tiba-tiba sudah selesai aja waktunya. Jadi kita terapi itu, diberi waktu sekitar 30 menit. Itupun sudah membekas sampai sekarang aku dirumah.
Sebenarnya, terapinya enak tapi sakit..

Friday, July 19, 2019

Mencoba Hal Baru

Tadi pagi...
Hari kedua aku dan suamiku ikut terapi.. "cuma suamiku sih yang ikut masuk, aku ndak.. Soalx naisha ndak mau, takut katanya"
Tadi kita berangkat jam setengah 10 dari rumah. Nyampek sana, my mom langsung daftar, dan nunggu antrian masuk. Alhamdulillah tadi pasiennya tidak terlalu banyak, jadi tidak terlalu lama ngantrinya. Selama yang lain terapi, aku sama naisha nongkrong didepan, sambil ngemil hehehe... Naisha ndak mau diajak masuk, takut liat orang pada tidur semua. Maklumlah, naisha anaknya memang penakut pada hal-hal baru.. Tapi mudah-mudahan nanti kalau sudah besar tidak penakut lagi. Harus berani, kayak ibunya hahaha 😅 selama menunggu, abis beli cemilan kita jalan-jalan. Naisha suka banget kalau diajak jalan-jalan. Akhirnya sampailah kita di Indomaret. Langsung dah tuh naisha minta beli susu.. Hadeh,, setelah itu kita kembali lagi ke tempat terapi lagi.
Setelah selesai terapi, kita semua langsung ke alun-alun. Karena yang laki-laki harus shalat jumat dulu dimasjid. Sedangkan yang perempuannya, duduk di kursi pinggir alun-alun sambil ngemil pastinya dan sambil gosip. Maklumlah ibu-ibu... Di alun-alun, kita juga main di tempat-tempat terapi kesehatan. Perlu diketahui, alun-alun kota Lumajang menyediakan beberapa alat fitnes dan terapi kesehatan. Jadi para pengunjung alun-alun bisa berolahraga atau terapi kesehatan.
Setelah shalat jumat selesai, kita langsung pulang kerumah.

Friday, July 12, 2019

Dulu dan Sekarang

Zaman sudah semakin maju, baik dari segi komunikasi, teknologi, hingga gaya hidup. Hal itu menunjukkan bahwa bangsa kita sudah semakin berkembang cara berpikirnya. Karena sejatinya Indonesia itu bukanlah negara maju, tapi negara berkembang. Indonesia itu masih berusaha mensejajarkan dengan negara-negara di Asia yang lebih dulu maju. Seperti, Jepang dan Cina.
*menurut sepengetahuan saya

Anak-anak era tahun 90-an sangat jauh berbeda gaya hidupnya dengan anak zaman sekarang. Namun justru zaman dahulu merupakan zaman yang sangat dirindukan oleh anak-anak pada masanya. Misalnya, dulu anak SD sampai SMA pakai rok pendek semua, permainan masih tradisional, tidak ada gadget, tidak ada handphone, stasiun televisi hanya tivi nasional.
Dulu, alat komunikasi jarak jauh yang dipakai adalah surat-menyurat. Ketika ada salah satu anggota keluarga yang merantau, alat komunikasi yang sering digunakan adalah surat menyurat. Telpon rumah ada, tapi hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Dalam surat-menyurat, akan lebih leluasa dan lebih dalem bahasanya dalam mengungkapkan sesuatu. Karena menulisnya benar-benar dari hati. Tetapi kalau telpon, tidak se-ekspresif didalam surat. Karena kadang masih ada ego, seperti gengsi atau malu.
Namun, dibalik kefenomenalan zaman dulu, zaman sekarang jauh lebih mudah dalam melakukan apapun. Meskipun zaman dulu lebih greget. Zaman dulu ada sisi positif dan negatifnya, begitu juga zaman sekarang. Tergantung manusianya bisa memanfaatkan dengan baik atau malah menyalahgunakannya. Kembali kepada pribadi masing-masing.

I'm here whenever u need

Mas, Q tau qm pasti heran kenapa Q bisa kayak gini sama qm. Jujur, q ndak mengharapkan apa-apa dari qm. Q cuma pengen nemenin qm sampek qm p...